Perbandingan Antara Watu Mahe Dalam Upacara Tung Piong Menurut Masyarakat Hubin Dan Altar Dalam Perayaan Ekaristi Gereja Katolik

SIKU, Fransiskus Hardiyoman (2021) Perbandingan Antara Watu Mahe Dalam Upacara Tung Piong Menurut Masyarakat Hubin Dan Altar Dalam Perayaan Ekaristi Gereja Katolik. Undergraduate thesis, STFK Ledalero.

[img] Text
Fransiskus Hardiyomann Siku_Abstraksi.pdf

Download (119kB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menyadarkan masyarakat Hubin akan pentingnya makna Watu Mahe dalam upacara Tung Piong sebagai suatu sarana pelestarian budaya daerah di kabupaten Sikka. (2) Menjelaskan perbandingan antara Watu Mahe dalam upacara Tung Piong dan Altar dalam Perayaan Ekaristi. (3) Menjelaskan Altar dalam Perayaan Ekaristi Gereja Katolik. Penulis menggunakan metode studi kepustakaan dan wawancara. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah buku Pesona Sikka: Deskripsi Sepuluh Objek Wisata Budaya. Dalam menjalankan penelitian ini, teknik yang digunakan yaitu Pertama, menelaah beberapa sumber kepustakaan yang membantu penulis dalam menganalisa topik seputar Perbandingan antara Watu Mahe dalam upacara Tung Piong dan Altar dalam perayaan ekaristi gereja Katolik. Kedua, melakukan wawancara dengan semua sumber yang telah dihubungi. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa Simbol Watu Mahe dalam upacara Tung Piong merupakan bentuk pemujaan sekaligus penghormatan terhadap para leluhur sekaligus Wujud Tertinggi yang dalam bahasa etnis sikka krowe disebut Ina Nian Tana Wawa, Ama Lero Wulan Reta. Hal ini dapat dibuktikan melalui tradisi dan kepercayaan masyarakat Hubin dalam menggelar upacara Tung Piong di Mahe Udek Rang atas kepercayaan masyarakat setempat akan perlindungan dari marabahaya, wabah penyakit serta usaha dan kerja keras masyarakat dalam memajukan masyarakat Hubin oleh para leluhur sekaligus wujud tertinggi yang di percaya. Upacara Tung Piong berusaha mempertahankan eksistensinya dari segala kemajuan teknologi sekaligus Agama yang dianut oleh masyarakat setempat sebagai sarana memperbaharui iman dan kepercayaan akan Yesus Kristus sebagai Juruselamat umat manusia. Disatu pihak gambaran mengenai Altar sebagai simbol penghayatan umat Kristiani yang merujuk pada kenyataan akan wafat dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai tanda penggenapan janji karya keselamatan Allah telah tercapai. Dalam konteks agama katolik nilai-nilai baik yang tertanam dalam upacara Tung Piong perlu dipakai oleh gereja katolik sebagai sarana dalam mengembangkan katekese umat sekaligus menghayati Wujud Tertinggi sebagai pencipta dan penggerak seluruh tatanan kehidupan manusia. Melalui nilai-nilai baik yang hadir dalam perayaan ekaristi gereja katolik mampu menggerakan iman umat masyarakat Hubin dengan menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai anggota gereja sekaligus menghayati makna dan arti terdalam dari perayaan ekaristi. Karena itu, apresiasi terhadap tradisi lisan dalam lintas budaya dalam praktek upacara Tung Piong mampu membuka wawasan berpikir sekaligus dapat melestarikan kebudayaan daerah Sikka.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Watu Mahe, Upacara Tung Piong, Altar dan Perayaan Ekaristi Gereja Katolik
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology
G Geography. Anthropology. Recreation > GT Manners and customs
Divisions: Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: Mr Fransiskus Xaverius Sabu
Date Deposited: 16 Jun 2021 02:23
Last Modified: 16 Jun 2021 02:23
URI: http://repository.stfkledalero.ac.id/id/eprint/816

Actions (login required)

View Item View Item