Relevansi Konsep Pluralisme Gus Dur Bagi Upaya Meminimalisasi Ancaman Fundamentalisme Islam Terhadap Kerukunan Hidup Beragama Di Indonesia

JEFRINO, Marianus (2020) Relevansi Konsep Pluralisme Gus Dur Bagi Upaya Meminimalisasi Ancaman Fundamentalisme Islam Terhadap Kerukunan Hidup Beragama Di Indonesia. Undergraduate thesis, STFK Ledalero.

[img] Text
Marianus Jefrino 16.75.5923.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Fundamentalisme Islam adalah sebuah fenomena kebangkitan Islam politik. Kaum muslim fundamentalis mereduksi Islam yang adalah agama menjadi sebuah ideologi politik untuk memperjuangkan suatu tatanan politik atas dasar keunggulan moral agama Islam. Kaum fundamentalis berkeyakinan bahwa hanya dengan sarana politik, kekuasaan Allah dan hukum Islam bisa ditegakkan secara sempurna. Dalam konteks Indonesia, cita-cita politis kaum fundamentalis untuk memperjuangkan tatanan politik berbasis Islam berbenturan dengan faktum pluralitas bangsa Indonesia. Faktum pluralitas bangsa Indonesia memperlihatkan bahwa Indonesia tidak bisa berdiri di atas dasar satu ideologi berbasis golongan atau moralitas agama tertentu. Dalam konteks kehidupan beragama, cita-cita kelompok muslim fundamentalis tersebut bisa berpotensi sebagai penghambat bagi upaya membangun kerukunan hidup beragama. Klaim kebenaran mutlak atas doktrin keislaman dapat menutup pintu relasi dialogis antara kelompok fundamentalis dengan kelompok-kelompok keagamaan lainnya. Dalam konteks ini, kaum fundamentalis terjebak dalam sikap eksklusivisme yang pada gilirannya dapat membidani pelbagai konflik inter/antaragama yang berujung pada tindakan kekerasan. Pada titik ini, kaum fundamentalis telah menafikan kemungkinan untuk hidup bersama dalam semangat kebhinekaan. Di tengah situasi demikian, dialog antaragama menjadi relevan untuk dilakukan. Dalam gagasan pluralismenya, Gus Dur memproposalkan pentingnya budaya dialog dalam kehidupan beragama. Dialog bisa meminimalisasi ancaman fundamentalisme Islam terhadap kerukunan hidup beragama. Dalam dialog, perbedaan keyakinan keagamaan bukan menjadi sekat yang membatasi hubungan baik antaragama. Dialog yang dimaksudkan di sini bukan untuk mempertemukan agama-agama secara teologis, melainkan sebagaimana Gus Dur tegaskan adalah membangun kerjasama untuk membebaskan manusia dari penderitaan. Penderitaan manusia menjadi prinsip dasar yang mempersatukan praksis solidaritas antaragama di tengah dunia. Di samping itu, ancaman fundamentalisme Islam juga dapat diminimalisasi melalui upaya deradikalisasi berbasis pengamalan nilai-nilai Pancasila. Upaya deradikalisasi berbasis pengamalan nilai Pancasila dilakukan dengan menunjukkan nilai-nilai keislaman dari Pancasila. Hal ini bertujuan untuk membungkam pemikiran ideologis yang selama ini dihidupi oleh kaum muslim fundamentalis

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Fundamentalisme, Islam, Agama, Pluralisme
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc
Depositing User: Mr Floribertus Herichis Wanto Tapo
Date Deposited: 19 Oct 2020 01:39
Last Modified: 04 Oct 2021 23:59
URI: http://repository.stfkledalero.ac.id/id/eprint/78

Actions (login required)

View Item View Item