Peran Mahasiswa Dalam Upaya Penyelamatan Demokrasi Dari Cengkeraman Oligarki Di Indonesia

JEWADUT, Jean Loustar (2020) Peran Mahasiswa Dalam Upaya Penyelamatan Demokrasi Dari Cengkeraman Oligarki Di Indonesia. Undergraduate thesis, STFK Ledalero.

[img] Text
Skripsi (Pdf) Jean Loustar Jewadut (16.75.5898).pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk (1) menjelaskan realitas oligarki yang mencengkeram demokrasi di Indonesia, dan (2) menjelaskan peran mahasiswa dalam upaya penyelamatan demokrasi dari cengkeraman oligarki di Indonesia. Metode penulisan yang digunakan adalah metode analisis data sekunder. Penulis membaca, menganalisis, mengkritisi, dan mengutip kutipan-kutipan yang berhubungan dengan tema tulisan ini sehingga memperkuat bangunan tesis yang penulis ajukan. Kemudian, penulis akan menyajikan bahan-bahan kutipan tersebut dan tesis yang penulis bangun dalam bentuk tulisan ilmiah dengan memperhatikan metodologi penulisan yang berlaku secara umum. Berdasarkan analisis data sekunder yang penulis lakukan, ditemukan bahwa oligarki pada masa Orde Baru terus berlanjut pada masa reformasi dengan varian bentuk. Soeharto sebagai inti dari oligarki Orde Baru telah melahirkan negara predator dengan berbagai kebijakan yang kontra kesejahteraan rakyat. Pada masa reformasi, persoalan oligarki menjadi semakin kompleks yang ditandai oleh fenomena desentralisasi oligarki. Oligarki mulai menyesuaikan diri dengan instrumen-instrumen demokrasi seperti partai politik, pemilu, dan media massa. Berkat kepemilikan modal ekonomi yang mumpuni, para oligark dengan begitu mudah memainkan peran penting dalam partai politik, konstelasi pemilu yang membutuhkan biaya mahal, dan media massa. Ada dua bentuk keterlibatan para oligark di Indonesia. Pertama, keterlibatan secara langsung. Artinya, para oligark terlibat secara langsung baik di lembaga eksekutif maupun legislatif dan mengatur kebijakan publik yang secara faktual kontra kesejahteraan rakyat. Kedua, keterlibatan secara tidak langsung. Artinya, para oligark tidak terlibat langsung menduduki jabatan politik tertentu di lembaga eksekutif maupun legislatif, namun mereka tetap bisa mempengaruhi kebijakan publik karena kepemilikan modal ekonomi yang banyak. Oligarki tetap eksis baik pada masa Orde Baru maupun pada era reformasi. Namun, satu hal yang menguntungkan yaitu jika dibandingkan dengan masa Orde Baru, kerja oligark dan sistem oligarki pada era reformasi lebih mudah dilacak dan diketahui oleh publik. Demokrasi pada era reformasi memberikan satu modal penting kepada publik untuk melacak kerja oligark yaitu kontrol terhadap kekuasaan. Kenyataan tersebut ingin menegaskan bahwa demokrasi otentik adalah demokrasi yang lahir dari bawah. Demokratisasi yang bermuara pada kesetaraan lebih merupakan hasil dari aksi kolektif yang muncul dari masyarakat sipil. Ketika kelas bawah mampu memberikan kekuatan terorganisir yang menyerang kepentingan elite dan oligark, demokrasi yang dihasilkan lebih mengedepankan kesetaraan dan kesejahteraan umum. Kesetaraan dan kesejahteraan umum adalah hasil dari sebuah perjuangan gerakan perlawanan terhadap kekuasaan dan bukan kondisi alamiah yang selalu ada di dalam sistem demokrasi. Komponen masyarakat sipil yang memiliki perbendaharaan pengetahuan yang memadai, kekritisan, dan jaringan yang luas seperti LSM, lembaga-lembaga penelitian, cendekiawan kampus (dosen dan mahasiswa), dan para pemuka agama yang progresif mesti menjadi orang-orang terdepan yang terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap kekuasaan. Ada dua bentuk keterlibatan mahasiswa yang penulis tawarkan. Pertama, keterlibatan teoritis dengan cara memasukkan keadaan masyarakat ke dalam pembahasan ilmu, dalam berdiskusi dan berdebat, dalam penelitian, dan penciptaan opini di media massa untuk menjadi konsumsi publik. Kedua, keterlibatan praktis dalam bentuk advokasi kasus-kasus publik dan demonstrasi. Sebagai sebuah kerja aktor dan sistem, gerakan perlawanan mahasiswa terhadap oligarki juga harus melibatkan banyak aktor dengan struktur atau sistem kerja yang jelas dan dilakukan secara terus menerus. Sangat penting bagi mahasiswa, tanpa menyepelekan kegiatan belajar mengajar di kelas, menggabungkan diri dalam organisasi, baik organisasi internal maupun eksternal kampus, yang memiliki visi dan misi yang jelas terhadap urusan demokratisasi di Indonesia. Kerja sama lintas kampus, lintas organisasi, dan lintas pemeluk agama menjadi panggilan bagi semua mahasiswa dalam rangka melawan oligarki. Gerakan mahasiswa harus sungguh-sungguh menjadi gerakan masyarakat. Sebagai gerakan masyarakat, gerakan mahasiswa harus dipahami dalam dua arah. Pertama, gerakan mahasiswa membawa aspirasi masyarakat kepada pemerintah. Dalam hal ini, mahasiswa berperan sebagai perpanjangan lidah masyarakat atau sebagai perantara antara pemerintah dan masyarakat. Para mahasiswa dapat memanfaatkan media-media sosial untuk menyuarakan kepentingan masyarakat kepada pemerintah. Kedua, gerakan mahasiswa yang melibatkan secara langsung dan aktif masyarakat-masyarakat sektoral seperti kaum buruh, para petani, para nelayan, dan kelompok masyarakat sektoral lainnya. Dalam arah yang kedua ini, dibutuhkan kecakapan untuk melakukan pengorganisasian gerakan karena harus melibatkan masyarakat sektoral secara langsung dan aktif.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Demokrasi, oligarki, mahasiswa, keterlibatan teoritis, dan keterlibatan praktis
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
J Political Science > JC Political theory
Divisions: Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: Mr Floribertus Herichis Wanto Tapo
Date Deposited: 17 Oct 2020 02:53
Last Modified: 04 Oct 2021 23:57
URI: http://repository.stfkledalero.ac.id/id/eprint/71

Actions (login required)

View Item View Item