Makna Di Balik Ritus Kelas Pada Masyarakat Sirimese Dalam Perbandingannya Dengan Ajaran Eskatologi Gereja Katolik

MINGGU, Fransiskus Xaferius (2022) Makna Di Balik Ritus Kelas Pada Masyarakat Sirimese Dalam Perbandingannya Dengan Ajaran Eskatologi Gereja Katolik. Undergraduate thesis, STFK Ledalero.

[img] Text
FRANSISKUS XAFERIUS MINGGU_Abstraksi.pdf

Download (39kB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menemukan makna di balik ritus kelas pada masyarakat Sirimese serta perbandingannya dengan ajaran eskatologi dalam Gereja Katolik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah beberapa informan di kampung Sirimese, seperti kepala desa, tokoh adat, dan beberapa warga yang memiliki keahlian dalam bidang yang diteliti. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik individual. Dalam pada ini, penulis turun ke lapangan dan mendatangi langsung beberapa informan yang dikonfirmasi terlebih dahulu. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara langsung dengan informan kunci dan observasi partisipatif. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa Kelas merupakan salah satu upacara krusial dalam kebudayaan masyarakat Manggarai pada umumnya dan masyarakat Sirimese pada khususnya yang sampai saat ini masih dipertahankan. Upacara ini umumnya dilaksanakan untuk menghormati orang yang telah meninggal dunia. Mereka meyakini bahwa jiwa dari orang yang telah meninggal disucikan dan diselamatkan melalui ritus kelas. Masyarakat Manggarai pada umumnya dan masyarakat Sirimese pada khususnya juga meyakini, bahwa ada kehidupan baru setelah kematian. Karena itu, ritus kelas dilaksanakan untuk menghantar arwah orang yang telah meninggal ke dalam dunia yang baru (pa’ang be le/wae besina). Makna di balik ritus kelas pada masyarakat Sirimese ini sejatinya memiliki relevansinya dengan ajaran eskatologi dalam Gereja Katolik. Dan berdasarkan temuan penulis, keduanya memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan antara keduanya tampak terlihat dalam beberapa hal. (1) keyakinan adanya Wujud Tertinggi, (2) pandangan tentang kematian, (3) adanya kehidupan baru setelah kematian, (4) adanya relasi antara orang hidup dan orang mati, (5) keyakinan akan adanya jiwa manusia, (6) kematian sebagai peralihan hidup. Sementara perbedaan antara keduanya adalah (1) tempat hidup sesudah kematian, (2) konsep tentang pengadilan terakhir, (3) hubungan antara orang yang masih hidup dengan orang yang telah mati, (4) konsep pengantara, (5) konsep tentang Wujud Tertinggi.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Ritus kelas, eskatologi, agama, budaya dan Masyarakat Sirimese
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
B Philosophy. Psychology. Religion > BT Doctrinal Theology
G Geography. Anthropology. Recreation > GT Manners and customs
Divisions: Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: Mr Fransiskus Xaverius Sabu
Date Deposited: 17 May 2022 04:44
Last Modified: 18 May 2022 02:12
URI: http://repository.stfkledalero.ac.id/id/eprint/1224

Actions (login required)

View Item View Item