Perbandingan Makna Torok Tae Masyarakat Manggarai Dalam Liturgi Ekaristi Dengan Doa Kristiani

RAGUNG, Yohanes (2020) Perbandingan Makna Torok Tae Masyarakat Manggarai Dalam Liturgi Ekaristi Dengan Doa Kristiani. Undergraduate thesis, STFK Ledalero.

[img] Text
YOHANES RAGUNG 16.75.5997.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Tulisan yang berjudul “Perbandingan Makna Torok Tae Masyarakat Manggarai dalam Liturgi Ekaristi, dengan Doa Kristiani.” Pada umumnya membahas tentang hubungan antara doa asli masyarakat Manggarai dengan doa Kristiani yang kini dianut mayoritas masyarakat Manggarai dalam liturgi Ekaristi. Dalam tulisan ini, penulis tidak melihat doa asli masyarakat Manggarai lebih baik atau lebih diakui dari pada doa Kristiani atau pun sebaliknya. Penulis justru ingin memudahkan masyarakat Manggarai dalam memahami salah satu jenis doa asli masyarakat Manggarai yaitu torok tae dalam Gereja. Terdapat beberapa alasan yang membuat penulis merasa tertarik membahas tema ini, yakni: Pertama, torok tae dan doa Kristiani merupakan dua jenis doa yang membuat manusia menjalin relasi dengan Allah. Manusia dapat menyampaikan rasa syukur dan juga permohonan kepada Allah. Oleh sebab itu, upacara ini perlu dijaga kelestariannya agar aspek keaslian budayanya tetap terjaga. Kedua, dalam mengajarkan ajarannya, Gereja diharapkan dapat menyentuh masyarakat penerimanya. Gereja harus terus berinkulturasi, agar ajaran-ajaran Gereja mudah dimengerti oleh umat di mana Gereja berpijak. Ketiga, dalam Gereja Katolik torok tae sudah lama dijadikan sebagai bagian dari perayaan Ekaristi. Torok tae biasa diucapkan atau dibawakan saat persembahan dalam Ekaristi. Torok tae menjadi salah satu doa yang mampu menjadi perantara Allah dengan manusia. Torok tae merupakan salah satu jenis kesenian khususnya seni bahasa atau sastra dalam bahasa Manggarai. Secara harafiah torok tae dapat diartikan penyampaian pesan, ujud atau permohonan. Karena torok tae berkaitan dengan upacara atau ritus tertentu, maka torok tae selalu dihubungkan dengan penyampaian ujud atau permohonan kepada wujud tertinggi (Mori Kraeng) dengan perantaraan para leluhur. Torok tae dapat dilakukan pada saat upacara keagamaan dan upacara adat. Doa orang Kristen adalah suatu ungkapan akan Allah yang hadir dan menyapa manusia dalam segala kenyataan hidupnya. Doa yang dijalankan secara pribadi maupun bersama adalah kesempatan bagi manusia untuk turut mengambil bagian dalam misteri keselamatan yang nyata dalam diri Kristus. Dalam penelitian ini penulis menemukan kesamaan nilai torok tae dengan doa Kristiani, perbedaan nilai torok tae dengan doa Kristiani, torok tae dalam liturgi Ekaristi. Kesamaan yang dimaksud dapat dilihat: 1) dalam pengakuan akan wujud tertinggi atau yang Ilahi dengan sebutan Mori dan Allah. Mori dengan segala sebutan dan peran-Nya menegaskan keberadaan Allah. 2) terletak dalam keyakinan roh leluhur atau orang yang telah meninggal dalam Kristus dapat menjadi pengantara doa dan menjadi pendoa bagi orang yang masih hidup. Kedua upacara ini juga memelihara relasi orang yang masih hidup dengan orang yang sudah meninggal. 3) sama-sama mengungkapkan nilai puji syukur sebagai tanggapan atas kemahakuasaan dan kebaikan yang Ilahi atas hidup dan perjuangan yang dialami. 4) torok tae dan doa Kristiani memiliki kesamaan makna. Manusia berdoa memohon pengampunan dari yang Mahakuasa dan memohon perlindungan serta penyertaan dari yang Ilahi dalam menghadapi tantangan hidupnya. 5) penghayatan saat doa sebagai saat yang penuh rahmat. 6) terdapat pemimpin doa yang dipercaya mampu menyampaikan permohonan manusia kepada Yang Maha Esa. Adapun perbedaan dari kedua doa ini adalah: 1) torok tae menggunakan hewan sebagai kurban, sedangkan dalam iman Kristiani, saat berdoa tidak disertakan dengan upacara penyembelihan hewan. 2) dalam torok tae orang Manggarai mengundang roh-roh leluhur untuk mengikuti acara yang akan dibuat. Sedangkan dalam ajaran iman Katolik tidak diperkenankan untuk memanggil atau mengundang kembali roh-roh orang yang sudah meninggal. 3) pemimpin torok tae berdasarkan garis keturunan, sedangkan dalam doa Kristiani yang menjadi pemimpin doa adalah semua orang yang sudah dibaptis dalam nama Kristus. 4) orang Kristiani percaya pada misteri Allah Tritunggal. Sedangkan kepercayan orang Manggarai kepada Mori Kraeng tidak mengungkapkan misteri Allah Tritunggal. 5) orang Kristiani menghayati imannya dalam kesatuan dengan Gereja. Karenanya torok tae orang Manggarai harus pula mencapai puncaknya dalam kesatuan dengan Gereja. Selain kesamaan dan juga perbedaan, terdapat pula hubungan antara torok tae dan doa Kristiani. Torok tae sudah lama dijadikan sebagai bagian dari perayaan Umat Allah atau yang bisa disebut Ekaristi. Terdapat beberapa hal yang menunjukkan hubungan antara dua doa ini, yakni: 1) Torok tae pada umumnya dilakukan pada saat umat mengantar persembahan ke depan Altar Tuhan. Dapat juga dibawakan saat perarakan masuk Gereja dan doa umat. 2) unsur-unsur torok tae dalam Ekaristi, seperti naring (pujian), bengkes (syukur), ampong ndekok (pengampunan dosa), dan tegi (permintaan atau permohonan) yang juga sangat tampak dalam doa Kristiani.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Torok Tae, doa Kristiani, Liturgi Ekaristi.
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology
G Geography. Anthropology. Recreation > GT Manners and customs
Divisions: Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: Mr Fransiskus Xaverius Sabu
Date Deposited: 26 Oct 2020 05:26
Last Modified: 04 Oct 2021 05:19
URI: http://repository.stfkledalero.ac.id/id/eprint/121

Actions (login required)

View Item View Item